DEWA633 - Waktu jam 1 siang itu kami berdua telah telentang di jok kami tiap- tiap, serta kami duduk dalam kondisi telanjang serta kemaluan kami menggeleber kemana- mana. Kami silih berpandangan serta tersenyum puas. Tangan kanan Mbak Iin meremas tangan kiriku, aku tidak ketahui apa maksudnya, apakah perkataan terima kasih, pujian ataukah janji buat mengulangi lagi apa yang sudah kami jalani. Sehabis rehat sejenak, Mbak Iin mengambil tisue serta mensterilkan cairan kental yang belepotan di perutku serta kemaluan aku. Mbak Iin memmbersihkannya dengan mesra serta terkadang bercanda dengan berupaya meremas serta membangunkan kembali rudal aku.
“ Mbak. Jangan digoda lagi lho, jika ngamuk lagi gimana..?” kataku bercanda.
“ Coba aja jika berani, siapa khawatir..!” jawabnya sembari menirukan iklan di Televisi.
Sehabis mensterilkan kemaluanku, ia pula mensterilkan kemaluannya dengan tisue, serta mengenakan kembali CD- nya, merapihkan rok, blus serta BH- nya yang kusut. Sedangkan aku pula merapihkan kembali celana aku.
Ia menyisir rambutnya, serta merapikan kembali riasan mukanya, sembari melirik serta tersenyum ke aku penuh senang.
“ Mbak.., esok senantiasa lho ya jam 10 pagi.” aku menegaskan.
“ Tentu donk, mana sih yang tidak pengin sarang burungnya dimasukin burung.” canda ia.
“ Terlebih sarangnya telah kosong lama ya Mbak..?” godaku.
“ Tentu lezat kok jika udah lama.” jawab ia.
Sehabis kami seluruh apik, Mbak Iin saya antar kembali dengan senantiasa berpelukkan, ia tertidur di dadaku, tangan kiri aku buat mendekap ia serta tangan kanan aku buat pegang stir.
Sesampainya di rumah MBak Iin, cuaca masih gerimis. Mbak Iin menawarkan buat mampir sebentar di rumah.
“ Vi, masuk dahulu ayo..! Saya buatkan kopi hangat kesukaanmu.” ajak Mbak Iin.
“ Oke dech, saya parkir dahulu mobilnya ya..?”
Hingga di dalam rumah Mbak Iin, nyatanya Tarno tidak terdapat. Bagi Bi Inah, pembantu Mbak Iin, katanya Tarno hari ini tidak kembali, sebab dimohon atasannya dinas ke luar kota.
“ Vi, nyatanya Tarno malam ini tidak kembali. Kalian tidur aja disini, di kamar Tarno.” pinta Mbak Iin sembari senyum penuh makna.
Saya ketahui kemana arah pembicaraan Mbak Iin.
“ Tidak ingin jika tidur di kamar Tarno, saya khawatir sendirian.” godaku.
“ Emangnya khawatir sama siapa..?”
“ Ya khawatir jika Mbak Iin nanti tidak nyusul ke kamarku.”
“ Ssstt..! Jangan keras- keras, nanti terdapat yang denger.” Mbak Iin cemberut, khawatir jika terdapat yang dengar.
“ Ya udah, saya tidur sendiri di kamar Tarno, jika nanti malam aku dimakan semut, jangan heran lho Mbak..!” aku pura- pura merajuk.
“ Tidak harus ribut, mandi situ dahulu, nanti malam jika seluruh orang udah pada tidur, kalian boleh nyusul saya ke kamar, tidak aku kunci kamarku.” bisik Mbak Iin pelan.
“ Siip dach..!” saya riang serta langsung berangkat mandi.
Habis mandi, tubuh aku terasa fresh kembali. Aku langsung berangkat ke kamar, pura- pura tidur. Namun di dalam kamar aku membayangkan apa yang hendak aku jalani nanti sehabis terletak di kamar Mbak Iin. Aku hendak bercinta dengan orang yang telah bertahun- tahun aku idamkan.
Jam di kamar aku menampilkan jam 12: 30 malam. Kudengarkan keadaan di luar kamar telah nampak hening. Tidak terdengar suara apapun. Televisi di ruang keluarga pula telah dimatikan Bi Inah kira- kira jam 11 tadi. Bi Inah merupakan orang yang terakhir nonton Televisi sehabis kegiatan Srimulat yang ialah kegiatan kegemaran Bi Inah. Buat menekuni atmosfer, aku keluar pura- pura berangkat ke kamar mandi. sehabis betul- betul hening, aku mengendap- endap masuk ke kamar Mbak Iin.
Lampu di kamar Mbak Iin remang- remang. Mbak Iin tidur telentang dengan menggunakan daster tipis yang terus menjadi memperindah lekuk badan Mbak Iin. Badan Mbak Iin yang mungil tetapi padat berisi, nampak nampak sempurna dibalut daster tersebut. Dengan tidak tabah aku dekap badan Mbak Iin yang lagi telentang bagaikan landasan yang lagi menunggu pesawatnya mendarat.
Mbak Iin aku dekap cuma tersenyum sembari berbisik,“ Telah tidak tabah ya..?”
“ Ya Mbak, perasaan waktu kok berjalan pelaan sekali..”
Aku cium balik telinganya yang mungil serta ranum, setelah itu ciuman aku beralih ke pipinya serta kesimpulannya ke bibirnya yang mungil serta pula ranum. Kedua tangan Mbak Iin mendekap erat di leher aku. Tangan aku yang kiri aku letakkan di dasar kepala Mbak Iin buat merangkulnya. Sebaliknya tangan kanan aku pakai buat membelai serta melingkari dekat susunya. Serta dengan lama- lama serta lembut, telapak tangan aku pakai buat meremas- remas bundaran luar payudaranya, serta nyatanya Mbak Iin telah tidak mengenakan BH lagi.
Erangan- erangan lembut Mbak Iin mulai keluar dari bibirnya, sebaliknya kedua kakinya bergerak- gerak menunjukkan birahinya mulai mencuat. Remasan- remasan tanganku di seputar susunya memperoleh respon balasan yang lumayan baik, sebab kekenyalan susu Mbak Iin nampak terus menjadi meningkat. Tangan kanan aku geserkan ke dasar, sebentar mengusap perutnya, bergeser ke pusarnya, serta kesimpulannya aku pakai buat mengusap kewanitaannya. Nyatanya Mbak Iin pula telah tidak mengenakan CD, sehingga kemaluannya yang bundar serta mononjol, dan kelembutan rambut kemaluannya bisa aku rasakan dari luar dasternya.
Kedua kakinya terus menjadi melebar, membagikan peluang seluas- luasnya tangan aku buat membelai- belai kewanitaannya. Ciuman aku sebagian dikala mendarat di bibirnya, setelah itu aku mengalihkan turun ke lehernya, ke balik telinganya, serta kesimpulannya turun ke dasar, melewati celah di bukit kembarnya. Aku ciumi bundaran luar bukit kembarnya, saat sebelum kesimpulannya menyiumi puting susunya yang telah mengacung. Kala lidah aku menyium hingga ke putingnya, napas Mbak Iin nampak mengangsur, menampilkan kelegaan.
“ Uuuccghh.. Allvii..!”
Tali daster yang menggantung di pundaknya, aku pelorotkan sehingga menyembullah kedua bukit kembarnya yang kenyal, dengan kedua putingnya yang telah mengacung serta tegang. Aku ciumi sekali lagi kedua bukit kembarnya, serta aku jilati putingnya dengan lidah. Sedangkan kedua jari dari tangan kanan aku secara bertepatan membelai- belai kedua selangkangannya, yang terkadang diselingi dengan usapan kemaluan luarnya dengan telapak tangan kanan aku. Belaian ini membagikan kehangatan di bibir kewanitaannya, tidak hanya buat tingkatkan rasa penasaran liang senggamanya.
Jari tengah aku pakai buat mebelai- belai bibir luar kemaluannya yang telah sangat basah. Aku usap klitorisnya dengan lembut serta pelan dengan memakai ujung jari, membuat Mbak Iin terus menjadi menikmati belaian lembut klitorisnya. Bibir kewanitaannya terus menjadi merekah serta terus menjadi basah.
Lidahku masih menari- nari di kedua putingnya yang terus menjadi keras, jilatan lidah aku membagikan sensasi yang kokoh untuk Mbak Iin. Teruji ia terus menjadi erat meremas rambut aku, deru nafasnya terus menjadi memburu serta lenguhannya terus menjadi kencang.
“ Uuuccgghh.. Aaallvii.. uugghh.. eennaaggkk..”
Aku jilati kedua putingnya kanan serta kiri bergantian, sembari meremasi dengan lembut namun sedikit memencet kedua susunya dengan kedua tangan aku.
Sehabis aku puas menciumi susunya, ciuman aku geser ke arah perutnya, aku jilati pusarnya, kembali Mbak Iin sedikit menggelinjang, bisa jadi sebab kegelian. Ciuman terus aku geser ke dasar, ke arah pahanya, turun ke dasar betisnya, terus naik lagi ke atas pahanya, setelah itu ciuman aku arahkan ke rambut kemaluannya yang rimbun. Menemukan ciuman di rambut kemaluannya, kembali Mbak Iin menggelinjang- gelinjang. Aku buka bibir kemaluannya yang merekah, aku ciumi serta jilati seputar bibir kewanitaannya, terus lidah aku diusapkan ke klitorisnya, serta bergantian aku gigit, terkadang aku hirup klitorisnya.
Tiap sentuhan lidah aku menjilat pada klitorisnya, tangan Mbak Iin menjambak rambut aku. Kepalanya menggeleng- geleng, dengan dada yang dibusungkan, kedua kakinya mendekap erat leher aku, serta kicaunya terus menjadi tidak karuan,“ Uuuccgghh.. Aaallvvii.. uughh.. ggeellii.. uuff.. ggeellii.. seekkaallii..”
Cairan yang keluar dari kemaluannya terus menjadi banyak, bau khas liang senggamanya terus menjadi kokoh menusuk. Rintihan, lenguhan yang keluar dari mulut Mbak Iin terus menjadi kacau. Gerakan- gerakan badan, kaki serta gelengan- gelengan kepala Mbak Iin terus menjadi kencang. Dadanya seketika dibusungkan, kedua kakinya tegang serta menjepit kepala aku. Aku paham jika dikala ini detik- detik orgasme hendak lekas menyerang Mbak Iin.
Buat membagikan bonus sensasi kepada Mbak Iin, hingga kedua putingnya aku usap- usap dengan kedua jari tangan, dengan mulut senantiasa menyedot serta menghirup klitorisnya, hingga seketika,
“ Aaauughh.. Aallvvii aakk.. kkuu.. kkeelluuarr.. Aaacchh..!”
Aku senantiasa menghirup klitorisnya. Serta dengan napas masih terengah- engah, Mbak Iin bangun serta duduk.
“ Mari Alvi.., gantian kalian tidur aja telentang..!” kata Mbak Iin sembari menidurkan aku telentang.
Gantian Mbak Iin telungkup di samping aku. Tangannya yang lembut telah mulai mengelus- elus batang kemaluan aku yang telah sangat tegang. Mulutnya yang mungil mencium bibir, terus turun ke puting. Aku merasa sedikit kegelian kala dicium puting aku. Mulutnya terus turun mencium pusar, serta kesimpulannya aku rasakan terdapat rasa hangat, basah serta sedikit sedotan telah menjalar di rudal aku. Nyatanya Mbak Iin mulai mengocok serta mengulum kejantanan aku. Mbak Iin mengulumnya dengan penuh nafsu. Matanya terpejam namun kepalanya turun naik buat mengocok rudal aku. Cerita Ngentot Dengan Janda Liar
Kepala kemaluan aku dijilatinya dengan lidah. Tekstur lidah yang lembut tetapi sedikit agresif, membuat seolah ujung jari kaki aku terasa terdapat getaran listrik yang menjalar di segala kepala. Jilatan lidah di kepala rudal memanglah sangat lezat. Aliran listrik terus menerus menjalar di sekujur badan aku. Kepala Mbak Iin yang naik turun mengocok kejantanan aku yang aku bantu pegangi dengan kedua tangan.
Kocokannya terus menjadi lama terus menjadi kokoh, serta hisapan mulutnya seolah meremas- remas segala batang keperkasaan aku. Segala pori- pori badan aku seolah bergetar serta bergolak. Getaran- getaran yang menjalar dari ujung kaki serta dari ujung rambut kepala, seolah mengalir serta bersatu mengarah satu titik, ialah ke arah rudal keperkasaan aku.
Getaran- getaran tersebut kian hebat, kesimpulannya kemaluan aku jadi seakan tanggul yang menahan air gejolak. Lambat- laun pertahanan kemaluanku seolah jebol, serta seketika aku menjerit.



